Home > Kisah > “MI Cibangban Berdiri Kokoh Berkat Swadaya Masyarakat”

“MI Cibangban Berdiri Kokoh Berkat Swadaya Masyarakat”

Diperbatasan Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten terdapat sebuah sekolah yang merupakan binaan DBE-USAID, sekolah tersebut bernama Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cibangban. Nama Cibangban diambil dari desa dimana sekolah tersebut berada, tepatnya di desa Cibangban, Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. MI Cibangban selain berada di tepi pesisir pantai selatan jawa juga berada di tengah-tengah masyarakat yang sebagian besar (hampir 100 %) penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan sehingga Kampung Cibangban lebih dikenal dengan sebutan Kampung Nelayan.

Setiap hari penduduk di kampung tersebut melaut untuk mencari ikan dan bergaul dengan teriknya matahari serta angin kencang yang bertiup menembus badan. Namun semangat penduduk untuk memajukan pendidikan terutama pendidikan bagi anak-anaknya tidak pernah pudar bahkan semakin tinggi seiiring dengan banyaknya kepedulian dunia luar untuk membantu masyarakat di Kampung Nelayan tersebut.

Dahulu sebelum MI ini dibangun, masyarakat mengalami kesulitan untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah dasar (begitupun untuk bersekolah ke SLTP). Untuk pergi ke sekolah (SD) yang terdekat, masyarakat harus berjalan lebih kurang 7 Km dengan berjalan kaki atau dengan naik ojek, sehingga mereka harus berangkat pagi-pagi sekali yaitu sekitar setelah sholat subuh supaya mereka tidak kesiangan datang ke sekolah. Kondisi ini menyebabkan masyarakat mulai berpikir agar ada lembaga pendidikan yang dekat dengan masyarakat dan mampu menampung anak-anak agar mereka mendapatkan pendidikan yang lebih layak.

Pada tahun 1963 melalui swadaya murni, masyarakat mulai berinisiatif untuk mendirikan Madrasah Diniyah (MD), dari pengadaan tanah wakaf sampai dengan biaya-biaya yang lainnya ditanggung sepenuhnya oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat pun tidak henti-hentinya menunggu bantuan dari pemerintah setempat untuk memberikan bantuannya sebab mereka menginginkan perubahan status sekolah dari Madrasah Diniyah (MD) menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI). Bantuan dari pemerintah yang tidak kunjung tiba membuat masyarakat lelah dan frustasi akhirnya pada tahun 1965 masyarakat kembali berinisiatif untuk merubah MD menjadi MI juga dengan hasil gotong royong secara murni (100%).

Proses pendidikan di MI Cibangban pun yang dimotori oleh Bapak Endang A. Ma sebagai Kepala Sekolah berjalan seadanya. Setelah 30 tahun menunggu, barulah pada tahun 1999 MI Cibangban mendapat bantuan dari pemerintah yaitu berupa dana segar untuk rehab ringan sebesar Rp. 3.500.000,00. Oleh masyarakat bantuan pemerintah tersebut kemudian digunakan bukan untuk rehab gedung tua namun digunakan untuk membangun ruangan baru sebanyak 3 lokal dengan nilai                 Rp. 30.000.000,-. Hal ini terpaksa dilakukan oleh masyarakat, sebab pada saat itu yang dibutuhkan oleh MI adalah ruangan untuk menampung jumlah murid yang sangat banyak dan harus ditampung di 6 kelas. Karena keterbatasan dana dan SDM serta lelahnya menunggu bantuan pemerintah yang tak kunjung datang, menyebabkan semangat masyarakat untuk membangun sekolah menjadi menurun sehingga pembangunan sekolah ini pun sempat terhenti yang akhirnya menggantung.

Program USAID melalui Decentralized Basic Education (DBE) mulai digulirkan di MI Cibangban sekitar awal tahun 2006 dengan pembuatan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebagai program pionir di tingkat sekolah (gugus). Program RPS ini kemudian diikuti dengan program penguatan Komite Sekolah yang secara serentak membangkitkan kembali semangat masyarakat untuk bahu membahu meningkatkan kepedulian mereka terhadap peningkatan pendidikan terutama untuk penyelesaian pembangunan sekolah yang sempat tertunda. Melalui Program DBE yang menyentuh semua unsur pelaku pendidikan baik di tingkat sekolah maupun gugus ini membuat pola pikir dan wawasan masyarakat di sekitar MI Cibangban menjadi lebih terbuka dan semangat yang sempat tertunda untuk membangun sekolah kembali bangkit dan semakin meningkat. Peluang-peluang dan celah-celah untuk membangun sekolah baik fisik maupun nonfisik menjadi terbuka lebar dan semakin nampak di depan mata. Yang tadinya tidak terpikirkan pun padahal ada di sekitar sekolah/masyarakat menjadi terpikirkan pula.

Melalui Komite Sekolah yang dimotori oleh Bapak E. Kosasih dan Bapak Aep Saepudin semangat masyarakat kembali bangkit kembali dan bahkan semakin meningkat. Salah satu kontribusi atau partisipasi masyarakat untuk membangun sekolah diantaranya adalah iuran uang, iuran barang, pikiran, tenaga, hasil gotong royong membersihkan jaring ikan dan hasil gotong royong menarik perahu dari laut ke darat maupun sebaliknya. Hasil gotong royong narik perahu dari laut ke darat maupun sebaliknya yang sebelumnya belum terpikirkan oleh masyarakat akhirnya menjadi tradisi yang berjalan sampai dengan sekarang. Masyarakat termasuk beberapa orang siswa MI (setelah pulang sekolah atau hari libur) ikut serta bergotong royong membersihkan jaring dan menarik perahu dari laut ke darat begitu pun sebaliknya yang kemudian sebagian dari upah yang mereka peroleh disumbangkan kepada MI untuk penyelesaian pembangunan sekolah tersebut. Tradisi ini masih berjalan sampai saat ini dan akan tetap berjalan seiiring dengan kebutuhan sekolah yang semakin berkembang.

(Dikirim oleh Indra Gunawan SDC DBE 1 Jabar Banten/DC Sukabumi)

Categories: Kisah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: